Ciwidey, Jalur Teh yang Terlupakan (Part 1)

ciwidey kaart

Peta Jalur Rel Cikudapateuh – Ciwidey (source: kitlv.nl)

Lama tidak posting, akhirnya saya kembali lagi. Meskipun diburu kerjaan yang tiada henti, pada akhirnya saya menyerah dengan keadaan, tak mampu lagi menahan keinginan diri untuk blusukan lagi (lebay ya, hehe).

Kali ini saya akhirnya berkesempatan blusukan di jalur rel mati Cikudapateuh – Ciwidey. Jalur ini merupakan milik Staatsspoorwegen (SS) dulunya dan mulai dioperasikan pada tahun 1924. Sudah lama pengen ke sini, tapi selalu gagal dengan berbagai macam alasan, dan akhirnya dengan tekad yang kuat dan dompet pas-pasan memberanikan diri untuk mewujudkannya. Kurangnya informasi tentang kondisi jalur ini juga semakin memacu keingintahuan saya. Namun, pada kesempatan ini tidak seluruh jalur ini mampu saya telusuri karena keterbatasan waktu dan kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

Berangkat dari Mesuji, Lampung pada Jumat Sore (20/05/2016) dengan “nebeng” teman naik mobil dan dilanjutkan dengan naik bus Damri dari Bandarlampung malam harinya. Tiba di Bandung pada Sabtu Pagi (21/05/2016) pukul 07.00, kami disapa dengan hujan yang turun dengan deras. Hmm.., sepertinya pertanda yang kurang bagus.

Oh ya, “kami” yang saya maksud tadi adalah saya dan teman kantor saya, Azim namanya, atau biasa saya menyapanya “Bang Azim”. Tempat pertama yang kami tuju adalah rumah mertua Bang Azim yang berada di daerah Banjaran, sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung (beda lho ya Kota Bandung dengan Kabupaten Bandung), yang jaraknya kurang lebih 20 km atau selama sejam perjalanan dengan angkot. Ada kejadian yang kurang mengenakkan, angkotnya menabrak motor, padahal tinggal beberapa kilometer lagi sampai. Saya pun hanya mampu terdiam melihatnya, sambil menatap mereka berbincang dengan Bahasa Sunda yang tak saya kuasai.

Tiba di Banjaran, saya bertemu dengan keluarga Bang Azim, mengobrol tentang kereta api di tempat itu, sebagai catatan bapak mertua Bang Azim ini adalah saksi hidup ketika jalur tersebut masih aktif, namanya Pak Wawan Setiawan. Beliau yang saat ini berusia 59 tahun itu bercerita tentang masa kecilnya dulu pernah naik kereta menuju ke Bandung dari Stasiun Banjaran yang letaknya sekitar 200 meter dari rumah itu. Tak perlu lama, saking penasarannya saya pun segera menuju ke lokasi.

DSC_0231

Pak Wawan Setiawan Bercerita di Rumahnya

Kondisi bekas Stasiun Banjaran tak ubahnya seperti sebuah bangunan yang kehilangan roh, sudah tak terlihat seperti layaknya sebuah stasiun. Terlihat sekarang menjadi balai RW, gudang, bengkel, kantor koperasi, dan halamannya terparkir mobil-mobil milik warga sekitar dan angkutan umum. Itu tadi di bagian depan, sedangkan di bagian belakang sudah berdiri rumah yang bangunannya menempel dengan bangunan induk stasiun. Relnya pun juga sudah tidak terlihat karena tertutup bangunan tembok dan jalan aspal, hanya sebuah tiang tinggi yang mirip timbangan yang masih tersisa di dekat stasiun. Kemungkinan digunakan untuk menimbang teh. Seperti diketahui di jalur ini merupakan jalur yang terkenal dengan pengangkutan tehnya. Stasiun banjaran berada di Jalan Stasiun, Desa Banjaran Kulon, Kecamatan Banjaran, Kabupaten bandung.

IMG_20160521_100604_HDRIMG_20160521_100436_HDRIMG_20160521_100052_HDRIMG_20160521_100048_HDRIMG_20160521_100104_HDRDSC_0053IMG_20160521_095910_HDRIMG_20160521_095512_HDR

Bekas Stasiun Banjaran

 

IMG_20160521_095939_HDR

Bekas Gudang Stasiun Banjaran

Karena kondisi yang masih lelah, saya memutuskan untuk kembali ke rumah tadi untuk beristirahat sebentar dan akan melanjutkan blusukan menuju ke arah Ciwidey.

Banjaran – Soreang

Setidaknya selama dua jam beristirahat, lalu saya memulai perjalanan menuju Ciwidey dengan meminjam motor “Scoopy Merah” milik Bang Azim. Saya memulai dari bekas Stasiun Banjaran dengan menelusuri gang sempit yang dulunya merupakan jalur rel. Bekas rel masih terlihat di gang tersebut, terlihat dengan jelas. Selanjutnya menjumpai permukiman kumuh yang berdiri di sekitar lokasi bekas rel dan beberapa bekas jembatan yang masih tersisa, masih lengkap dengan rel, meski tanpa bantalan kayu, dan begitulah seterusnya yang saya jumpai hingga masuk ke daerah Soreang.

DSC_0069DSC_0073DSC_0074DSC_0075DSC_0079

Bekas Jalur Rel di Desa Kamasan

 

 

DSC_0087DSC_0082DSC_0080 Jembatan Sungai Cisangkui

 

DSC_0094DSC_0098DSC_0101DSC_0102

Jembatan Sungai Ciherang

 

DSC_0110DSC_0107DSC_0114

Jembatan Sungai Cikamuy

 

DSC_0088DSC_0090DSC_0105DSC_0091

Kondisi Bekas Rel menuju Soreang

Memasuki Soreang pukul 17.00 saya agak kebingunan dengan lokasi bekas Stasiun Soreang. Dengan naluri sepur yang saya miliki, seperti biasa saya mencari lokasi pasar karena lokasi pasar biasanya berada di dekat stasiun dan memang benar adanya. Memanfaatkan Google Map dan berbekal petunjuk dari orang, akhirnya ketemu juga bekas Stasiun Soreang. Lokasi stasiun ini berada di Jalan Stasiun, Desa Pamekaran, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Stasiun ini kini menjadi gudang. Namun, di dalamnya masih saya dapati dua loket karcis yang masih utuh, ubin kotak-kotak khas bangunan stasiun yang masih terawat, dengan palfon bambu yang mulai berlubang, dan sebuah kotak besi kosong yang mungkin adalah peninggalan bersejarah. Sebuah menara air pun juga masih kokoh berdiri di dekat banguann stasiun, mekipun agak tertutup bangunan baru di sebelahnya.

DSC_0117DSC_0122DSC_0124DSC_0127DSC_0128DSC_0132DSC_0136

DSC_0131

Kondisi Bekas Stasiun Soreang

DSC_0140DSC_0143DSC_0146

Menara Air Stasiun Soreang

Hujan deras yang turun memaksa saya bertahan lebih lama di tempat itu, sambil terus berbincang dengan Pak Haji, lelaki tua umur 56 tahun yang tinggal di sekitar stasiun itu. Sembari menunggu hujan reda, saya terus menggali informasi tentang kondisi stasiun semasa aktif darinya.

“Di stasiun ini dulu ada empat jalur rel. Saya ingat dulu waktu kecil pernah naik kereta dari sini (Stasiun Soreang) sampai ke Ciwidey. Saat itu lokomotif menggunakan bahan bakar batubara. Tapi sejak terjadi kecelakaan di daerah Cukanghaur, kemudian sudah tidak pernah jalan lagi keretanya, mungkin sekitar tahun 1978-79 kalau tidak salah,” terangnya.

Akan tetapi, lama-kelamaan beliau menaruh curiga atas pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan.

“Anda ini dari PJKA ya, kok dari tadi pertanyaannya serius. Tujuannya apa nanya-nanya? Sebelumnya tidak ada yang pernah tanya-tanya seperti ini,” tanya beliau dengan curiga.

Inilah pertanyaan yang seringkali saya hadapi dan harus bisa menjelaskan tentang siapa dan apa tujuan saya. Bagi kebanyakan orang mungkin aneh apa yang saya lakukan ini, atau bisa dibilang kurang kerjaan.

DSC_0139

Pak Haji (56), warga sekitar Stasiun Soreang

 

Soreang – Ciwidey

Hujan mulai reda dan saya kemudian meninggalkan Soreang menuju ke arah Ciwidey. Sampai di daerah Sadu, tepatnya di sekat lokasi Taman Makam Pahlawan Pasir Pahlawan, terdapat rel yang berdiri. Tidak hanya itu, saya juga menemukan dua buah bekas tiang telegraf yang menjadi jemuran warga. Setelah itu tepat saat adzan maghrib berkumandang saya tiba Jembatan Sadu yang lokasi berada di pinggir jalan raya, sehingga bagi siapapun yang lewat jalan itu pasti melihatnya. Saya kira Jembatan Sadu ini merupakan jembatan terbesar yang saya lihat dan tentunya dengan desain yang lebih megah, rangka yang melingkar bagian atas, berpadu dengan derasnya arus sungai di bawahnya usai diguyur hujan yang cukup lebat. Kondisi yang mulai gelap membuat saya kesulitan mengambil gambar. Untung dengan “Xperia Ray” sedikit melegakan hasilnya, meskipun tanpa bantuan flash sekalipun (bukan iklan lho).

DSC_0156

Tiang-tiang Rel di Dekat Taman Makam Pahlawan Pasir Pahlawan, Sadu

DSC_0152

Bekas Tiang Telegraf menjadi Jemuran Warga

DSC_0159DSC_0170DSC_0174DSC_0181DSC_0182

Jembatan Sadu

Langit yang mulai temaram menimbulkan kebimbangan, apakah akan melanjutkan perjalanan hingga Ciwidey atau tidak. Dan, saya memutuskan untuk lanjut, meskipun saya yakin dengan kondisi malam tidak akan mampu membawa “oleh-oleh” gambar yang baik.

Akhirnya saya tiba di Ciwidey pada pukul 19.00, setelah menembus dinginnya malam pegunungan. Dan, lagi-lagi saya harus melihat Google Map pada handphone yang sudah low-batt ini. Dengan menarik jalur lurus yang ada di peta, saya dengan mudah menemukan bekas gudang Stasiun Ciwidey, karena lokasinya yang berada di pinggir jalan. Awalnya saya menduga bangunan itu adalah stasiunnya, ternyata bukan. Bangunan tersebut adalah gudang penyimpanan teh, sebelum diangkut menggunakan kereta api menuju Bandung. Bangunan gudang cukup besar dan panjang, kemungkinan dulu sangat melimpah hasil perkebunan teh di daerah ini.

DSC_0185DSC_0189DSC_0194DSC_0205DSC_0209

Bekas Gudang Teh Stasiun Ciwidey Kini menjadi Bengkel

Berbekal informasi warga, saya disarankan untuk masuk lebih jauh lagi ke dalam gang di sebelah gudang itu. Di sana saya berjumpa dengan Pak Cucu (56) dan Pak Maman (64) yang saat itu sedang ngopi di warung. Dari kedua orang tersebut saya mendapat informasi yang mendalam.

Saya kemudian diajak berkeliling oleh Pak Cucu di sekitar lokasi. Pertama saya ditunjukkan lokasi menara air yang masih utuh, selanjutnya lokasi bangunan dipo lokomotif yang kini jadi garasi mobil, dilanjutkan dengan lokasi bangunan penyimpanan minyak untuk bahan bakar lokomotif, bangunan stasiun yang kini menjadi gudang, bangunan gudang yang sekarang menjadi bengkel, dan turn-table yang kini separuhnya sudah menjadi pondasi bangunan rumah (mohon maaf foto-fotonya gelap).

IMG_20160521_185038IMG_20160521_185013

Bekas Menara Air Stasiun Ciwidey

IMG_20160521_185543IMG_20160521_185347

Bekas Turn-Table Stasiun Ciwidey

DSC_0211DSC_0214

Bekas Bangunan Dipo Lokomotif Stasiun Ciwidey

DSC_0219

Bekas Stasiun Ciwidey

DSC_0225

Bekas Tuas Wesel

Dari semua bekas bangunan di lokasi komplek Stasiun Ciwidey, yakni di Kampung Pamekar Sari, Desa Ciwidey ini sangat terawat kondisinya, hanya saja sudah dikelilingi bangunan-bangunan baru, baik yang berdiri di atas jalur rel maupun berdekatan dengan bangunan-bangunan tersebut.

“Di sini bekas bangunan semua terawat, hanya saja bekas relnya sudah tidak terlihat karena sudah tertutup jalan dan bangunan baru. Tidak ada yang berani mengambil atau merusak bangunan stasiun, karena itu khan semua milik PJKA,” ujarnya.

Beliau menceritakan juga kondisi stasiun yang ramai semasa masih aktif, kereta terdiri dari empat gerbong kereta yang sebagian besar mengangkut hasil perkebunan teh dari daerah Rancabali dan belerang dari daerah Kawah Putih. Satu hari ada sekitar 3-4 kali perjalanan dan yang paling pagi berangkat sekitar pukul 05.00 atau bakda Subuh.

Beliau juga bercerita pernah naik kereta api menuju Bandung dengan kereta uap. Saat itu memakan waktu sekitar dua jam perjalanan, lebih cepat dibandingkan menggunakan bus umum saat itu yang memakan waktu perjalanan hampir lima jam, dengan kondisi jalan saat itu masih tanah, tidak seperti sekarang yang sudah bagus kondisinya. Tiketnya seharga Rp 25 untuk penumpang dewasa dengan bentuk tiket jenis edmondson, sedangkan untuk anak-anak tiket dipotong menjadi dua bagian dengan harga separuhnya.

Dari cerita beliau, saya mendapat informasi bahwa dulu jalur tersebut mulai non-aktif sejak terjadi kecelakaan di daerah Cukanghaur pada tahun 1972 yang mengakibatkan tiga orang tewas, salah satunya adalah Kepala Stasiun Ciwidey yang bernama Adromi. Akibat kecelakaan jalur rel menjadi rusak dan tidak diperbaiki, sejak saat itu pengoperasiannya tidak dilanjutkan.

DSC_0228

Pak Cucu an Pak Maman

Ketika saya bertanya jika seandainya jalur ini diaktifkan, beliau dengan menjawab sangat setuju. Hal itu menurutnya banyak manfaatnya, mengingat Ciwidey merupakan daerah wisata, dengan keberadaan kereta api tentu lebih mendongkrak pariwisata di daerah itu. Ditambah lagi menurutnya, jalan raya yang sekarang ada sudah sering macet, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.

“Saya sangat setuju jika keretanya diaktifkan lagi, selain mendongkrak pariwisata di sini juga sebagai alternatif transportasi selain jalan darat yang sekarang sudah sering macet,” harapnya.

Sebenarnya belum puas saya mengobrol, tapi karena memang sudah malam saya memutuskan untuk pulang ke Banjaran. Agak kecewa sih memang, foto-foto yang saya ambil kurang jelas, hanya tergambar bagus di ingatan.

Beberapa halte dan jembatan yang ada di pada ruas jalur Banjaran – Ciwidey ini memang sengaja saya lewatkan, antar lain Halte Cangkuang, Citaliktik, Sadu, Cukanghaur, dan Cisondari karena keterbatasan waktu dan alasan cuaca, dengan harapan dengan waktu yang tersisa dimaksimalkan agar bisa menyambangi beberapa stasiun utama yang ada. Saya kira sudah terlalu panjang ya, bersambung ke postingan selanjutnya saja lah, hehe.

Iklan

33 thoughts on “Ciwidey, Jalur Teh yang Terlupakan (Part 1)

  1. Naluri sepurmu cen luar biasa hehehe. Eman banget yah stasiun Banjaran udah hilang kharismanya. Trus Stasiun Ciwidey hasil fotonya gelap, jadi penasaran masih seutuh apa kalau dilihat pagi hari 😀

    1. terima kasih bro.
      kemarin waktu cuma 2 hari di sana, sabtu-minggu, senin harus balik ke lampung masuk kerja lagi. hehe
      nanti ke sana lagi kok, meneruskan yang belum terjangkau dan jalur lainnya, habis lebaran mungkin.

      1. eman tenan yah, karena ada tewas, jalurnya rusak, terus gak diperbaiki 😦 jalur jakarta-bandung aja indah banget pemandangannya, apalagi bandung-ciwidey yak, jadi penasaran gimana kalo nanti udah diaktivasi lagi …
        makasih postingannya mas 🙂

  2. Yah… rugi ane, liburan 2015 kemaren ke Ciwidey (ke kawah putih ama situ patenggang) pertamanya udah mulai curiga, kok sepanjang jalan di ciwidey keliatan ada bekas patok patok rel, ternyata pas abis di belokan keliatan deh tuh penampakanya jembatan sadu. Tambahan, di jalan keluar dari parkiran kawah putih kok masih keliatan nyembul di pinggir jalan, apa mungkin itu bekas rail bed?

    1. dulu saya juga tahunya pas lagi liburan kesana tahun 2010, lihat ada bekas jembatan jalan raya, makanya ada keinginan blusukan kesana.

      saya kurang tahu kalo ada jalur rel di kawah putih, karena menurut keterangan warga sekitar tidak ada jalur rel kesana.

  3. akhire gawe tulisan lagi mas, lama ditunggu liputannya hehe..
    yg diulas baru arah banjaran-ciwidey ya? ditunggu deh yg cikudapateuh-banjaran..kalo mau ntar sy anter deh buat nelusurin tuh jalur mati..gampang bgt kok, dari mulai belakang trans studio sampe banjaran lewat pinggir jalan semua..oya kebetulan sy cah solo kerja di bandung, kosan depan jalur mati itu di daerah buah batu hehe..mulai tertarik sejarah jalur mati gara2 penasaran ama rel terpendam yg dikerubuti hunian liar deket kosan 😀 eh ternyata itu bekas jalur yg ke ciwidey..

  4. wah akhire update lagi hehe..
    kalo mau lanjut lg yg part 2 alias yg dari cikudapateuh – banjaran, ane bersedia nemenin broo :p
    kebetulan tuh jalur mati lewat depan kosan ane di daerah buah batu, sesama wong solo perantauan hehe..
    gara2 penasaran ama tuh jalur mati ke arah mana, skrg jadi salah satu fans jalur kereta mati jg..
    kebetulan jg tuh jalur mati yg dari belakang trans studio, gampang bgt dicari jejaknya..rata2 dipinggiran jalan..cuman udah disikat ama rumah2 penduduk jg sih..
    kontak ane aja kalo mau part 2 :p

  5. Ntar kalo direaktivasi kayanya langsung KRL mengingat yg di bawah (kota bandung) kan daerah macet, pasti laku kalo jd angkutan komuter. Tiga rebu bisa ke bandung lol.

    Persoalan cari duit kan bisa ngajakin alfamart dkk, belajar dr penataan stasiun KRL. Tentunya ajakin pengusaha kebun teh dan pabrik pabrik.

    Yang di kota, krn padat banget kayanya bakal elevated/ubah jalur, tapi hebat jg tanah KA awet di sini.

      1. Part 1 smp soreang udah pasti jadi commuterline buat orang kidul, makanya kayanya mahal nih reaktivasi, karena biar rame harus double track + disetrum. Berarti bs jadi sekalian proyek KRL Bandung Raya

  6. Saya terakhir jalan kaki blusukan dari persimpangan jalur utama (eks Halte Cibangkonglor atau Cibangkong saya lupa) menuju ke persimpangan ke Banjaran dan Ciparay tahun 2009 sudah sangat penuh rumah, bahkan jembatan KA didaerah Jalan Salendro Bandung sudah jadi petak gubuk, sayang sekali ketika itu saya tidak foto2 karena saya baca2 di forum kalau masyarakat yg menduduki eks jalur itu tidak suka jalur ini diaktifkan kembali, lumayan mengejutkan sampean bisa bebas foto2 jalur ini tanpa diinterogasi dan dimarahi kayak liputan mblusukan jalur ini di forum lainnya. Ditunggu part 2nya saya berharap sampean juga mblusukan petak Dayeuh Kolot – Ciparay juga, seingat saya jalur ini salah satu jalur yang dicopot oleh Jepang dan jarang ada dokumetasinya

    1. siap mas, nanti nunggu ada liburan panjang lagi. hehe
      kemarin pas blusukan ramah-ramah semua kok mas warganya, bahkan banyak yang mendukung jalur ini dihidupkan, salam. 🙂

    2. Makanya saya yakin akan elevated ini jalur kereta, nanti malah bs lebih indah kalo berpotongan sama kereta cepat di dkt GT Buahbatu. Persis yg udah bisa kita nikmati di Ibukota, perpotongan MRT sama busway. Btw trasenya ada yg ketimpa purbaleunyi jg pasti, udh mustahil pake track lama.

      Tapi tanah PT KA di jalur lama jangan sampe lenyap jg… Buat bukti sejarah aja kalo emg terpaksa pake track layang.

      1. Kalo direaktivasi katanya bakal keren karena dalam kota bdg udah pasti layang ngikut jln Buahbatu. Yang sangat ditunggu perpotongan sama kereta cepat akan gmn, kita gk pernah tau jalur itu akan fix potongan sama kereta cepat

  7. Cahsepur Sukohardjo Mantaapp……
    Saya senang dengan postingan rel mati di kabupaten Bandung yang menghubungkan Bandung dengan Ciwidey. Kalau sudah diaktifkan kembali, dapat dioperasikan KRL dan kereta barang.
    KRL untuk pengunjung wisata dan penduduk di Ciwidey yg ingin ke kota Bandung dengan cepat.
    Kereta barang untuk mengangkut hasil pertanian, perkebunan, hasil tambang, dll.
    Mudah mudahan masnya bisa menelusuri rel mati yang lain. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s