Blusukan Ranah Minang #2

Usai meninjau Stasiun Solok, kemudian perjalanan berlanjut ke Sawahlunto. Sempat bertanya orang, katanya sekitar satu jam perjalanan. Namun, kenyataannya malah bisa sampai satu jam lebih. Kenapa? Karena di luar rencana, saat perjalanan saya menemukan ada tiga stasiun yang terdapat di antara jalur Solok – Sawahlunto yang saya temui, yaitu Stasiun Sungai Lassi, Silungkang, dan Muara Kalaban.

Stasiun Sungai Lassi

Stasiun ini merupakan stasiun pertama yang saya temui pertama kali lepas dari Solok, baru sekitar setengah jam perjalanan. Mudah menemui stasiun ini karena lokasinya yang tidak jauh dari jalan raya. Apalagi sebelum stasiun dapat terlihat sebuah sinyal masuk.

Kondisi stasiun ini kurang terawat, banyak kayu yang keropos dan ada bagian yang hilang. Tak hanya itu, coretan dan debu serta kotoran lainnya banyak menghiasi tempat ini. Apalagi di dalam ruang PPKA terlihat penuh debu, memang karena sudah lama tidak digunakan sehingga begini kondisinya.

DSC_0840

DSC_0821

DSC_0823

DSC_0825

DSC_0829

DSC_0830

DSC_0831

DSC_0832

DSC_0834

DSC_0835

DSC_0836

DSC_0838

Kondisi Stasiun Sungai Lassi

Ada tiga jalur rel di stasiun ini, tetapi hanya satu yang masih terlihat, sisanya banyak yang sudah terbenam tanah. Itupun banyak ditumbuhi rumput sekarang, karena sudah lama tidak ada kereta yang lewat. Suasana sepi juga terasa di tempat ini.

Stasiun Silungkang

Stasiun berikutnya adalah Stasiun Silungkang. Lokasinya mungkin tak tercium dari jalan raya karena sepinya tanda-tanda adanya sebuah stasiun. Yang jadi patokan saya adalah pasar, karena saya berpikir biasanya stasiun ada di dekat pasar, sama seperti yang saya ungkapkan pada postingan sebelumnya tentang Stasiun Solok. Sebenarnya yang benar sih pasar yang dekat dengan stasiun, karena biasanya di dekat lokasi stasiun di situ kemudian muncul keramaian. Jadi, seiring dengan berdirinya stasiun kemudian di situlah pasar akan berkembang.

Namun, berbeda dengan stasiun sebelumnya, Stasiun Silungkang ini sudah tidak digunakan lagi dan sudah beralih fungsi. Bangunan stasiun sekarang menjadi rumah, tentunya dengan sistem sewa. Saya jadi ingat kondisi Stasiun Kranggan, serupa dengan tempat ini, yaitu ditinggali oleh keluarga pensiunan PT KAI. Saya bertanya dengan penghuninya bahwa stasiun tersebut telah 20 tahun tidak dipakai lagi.

Secara fisik bangunan masih terlihat seperti stasiun dengan nama stasiun yang masih utuh, hanya pada bagian tengah tampak telah ditutup dan diberi jendela. Saya pikir di bagian tengah ini dulunya terdapat lorong tempat keluar masuk penumpang. Namun, secara keseluruhan bangunan masih terawat.

DSC_0841

DSC_0842

DSC_0845

DSC_0846

DSC_0847

DSC_0851

DSC_0852

DSC_0853

DSC_0854

DSC_0856

DSC_0855

Kondisi Stasiun Silungkang

Pada bagian depan langsung berhadapan dengan jalan dan pasar dengan bangunan stasiun yang lebih tinggi. Sedangkan pada bagian belakang berhadapan dengan sebuah sekolah. Di stasiun ini juga tempat berkumpul para pemilik anjing. Saya kurang paham apakah mereka hanya sekadar nongkrong atau menjual anjingnya. Saya sendiri cukup asing dengan keberadaan anjing yang cukup banyak itu, tetapi yang saya tahu di Sawahlunto ataupun tempat lain di Sumatera Barat memang anjing jadi peliharaan favorit, bahkan ada kejuaraan pacu anjing. Namun, yang pasti pasti gonggongan anjing meramaikan tempat itu.

Stasiun Muara (Muaro) Kalaban

Stasiun ini merupakan stasiun percabangan jalur menuju Sawahlunto dan Muaro Sijunjung. Namun, saat ini jalur menuju Sawahlunto lah yang masih aktif, walaupun tidak ada kereta yang lewat. Sedangkan jalur menuju Muaro Sijunjung sudah tidak aktif lagi.

Cukup mudah mencapai stasiun ini karena sudah ada papan arah petunjuknya. Saat tiba di lokasi saya melihat bahwa stasiun ini yang paling besar dan terawat dibandingkan dengan Stasiun Sungai Lassi dan Silungkang yang sebelumnya saya temui. Cukup sepi, tanpa aktivitas apapun karena memang tidak ada perjalanan kereta api, hanya sekelompok anak-anak yang bermain di area stasiun.

1890 kalaban

Kondisi Stasiun Muara Kalaban Tahun 1890 (Source: KITLV.nl)

DSC_0876

DSC_0857

DSC_0858

DSC_0860

DSC_0863

DSC_0865

DSC_0866

DSC_0867

DSC_0868

DSC_0869

DSC_0871

DSC_0873

Kondisi Stasiun Muara Kalaban

Usai dari stasiun tersebut, saya mencoba sedikit melihat kondisi jalur menuju Muaro Sijunjung. Jalur tersebut menyeberang di atas jalan melalui underpass, kemudian terus menuju ke arah Muaro Sijunjung. Tak jauh saya melangkah, mungkin sekitar 4 km. Namun, karena harus berpacu dengan waktu akhirnya saya balik kanan menuju Sawahlunto. Sejauh yang saya lihat rel masih banyak yang ada di kanan-kiri jalan, kondisinya tak berbeda jauh dengan kondisi jalur mati Bedono – Payaman yang dipenuhi bangunan di atas rel. Namun, saya tidak sempat mengabadikan dengan kamera, hanya terekam lewat mata, karena mepetnya waktu. Saya pikir akan susah untuk menghidupkan lagi jalur tersebut.

DSC_0877

Jalur Menuju Muaro Sijunjung

Oh ya, untuk Stasiun Silungkang dan Muara Kalaban tadi telah ditetapkan oleh Pemkot Sawahlunto sebagai Benda Cagar Budaya (BCB), sebuah kepedulian dari pemerintah setempat tentang kelestarian benda bersejarah, layak diacungi jempol!

Lubang Kalam

Pada jalur menuju Sawahlunto kita akan menemukan sebuah terowongan, warga sekitar mengenalnya sebagai “Lubang Kalam”. Terowongan sepanjang 835 meter ini menjadi saksi bisu pengangkutan batubara dari Sawahlunto menuju ke Emmahaven (Pelabuhan Teluk Bayur). Diresmikan pada sekitar tahun 1890, pembangunan terowongan ini memakan waktu sekitar 2 tahun.

Untuk menuju lokasi, saya mengambil rute dari Masjid Agung Nurul Iman, kemudian mengikuti rel menuju arah ke Muara Kalaban, dapat menggunakan motor untuk mencapainya. Namun, karena kondisi yang banyak tanaman liar, akhirnya saya memilih untuk meninggalkan motor dan berjalan kaki. Suasana negri yang saya tangkap saat menuju lokasi. Antara perasaan cemas nanti kalau ada ular maupun hewan berbisa lainnya, serta agak ngeri karena ada makam di pinggir rel, ditambah dengan suasana yang sunyi.

Akhirnya saya tiba di mulut terowongan. Untuk menuju ke dalam harus melewati jembatan kecil, cukup mudah bagi saya. Namun, saya tidak berani masuk lagi lebih dalam, ya tadi siapa tahu ada ular di dalam, kalau ramai mungkin saya berani.. hehe.

1910

1910 2

Terowongan Lubang Kalam Tahun 1910 (Source: KITLV.nl)

DSC_0936

DSC_0931

DSC_0932

DSC_0933

DSC_0935

Terowongan Lubang Kalam

Iklan

5 thoughts on “Blusukan Ranah Minang #2

  1. lubang kalam, kalo indonesianya lubang kelam / gelap 🙂 kabarnya di dalam ada beberapa lubang sebagai tempat “evakuasi” kalo ada kereta lewat biar mereka gak mati ketabrak …

  2. Mas, bikin cerita blusukan jalur mati garuntang – teluk betung, bandar lampung dong. Kan sekarang tinggal di lampung, mumpung masih tinggal di lampung coba jalani usul dari saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s