Blusukan Ranah Minang #1

Menuju Padang

Alhamdullillah ada liburan panjang akhir pekan kemarin. Tepatnya pada hari Jumat, 3 April 2015 yang lalu saya dapat kesempatan untuk liburan ke Padang, Sumatera Barat. Nah, kebetulan ada jadwal pesawat langsung dari Palembang ke Padang. Berbeda dari cerita blusukan sebelum-sebelumnya, kali ini saya mengawali perjalanan dari Mesuji. Ya, sekarang saya domisili di Mesuji, karena bekerja di sini. Namun, saya masih konsisten dengan nama Cah Sepur Sukohardjo kok.. hehe.

Bagi yang belum tahu, Mesuji berada di Provinsi Lampung, letaknya di bagian utara dan berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Selatan. Jadi, tidak terlampau jauh jika harus ke Palembang. Cukup naik bus ataupun travel ke sana, sekitar 4-6 jam perjalanan, tergantung kondisi keramaian jalan.

Perjalanan ini saya awali dari Mesuji, menuju ke Palembang. Pada pukul 01.30 naik bis dari Simpang Pematang. Bis yang saya naiki Gumarang Jaya dan ternyata bis tersebut jurusan Padang, wah.. Tepat pukul 07.00 saya tiba di Palembang, turun di Simpang Musi II, lanjut naik ojek hingga ke Bandara Sultan Mahmud Badarudin II. Bertemu dengan teman saya, Jajum yang sudah menanti di bandara. Jajum ini teman saya yang kerja di Palembang, tapi rumah di Padang. Pesawat yang kami tumpangi berangkat pukul 10.30 dan transit ke Batam terlebih dulu. Cah sepur kok numpak pesawat, weleh..

DSC_0718

Pesawat yang Membawa Kami ke Padang

Akhirnya kami tiba di Bandara Internasional Minangkabau pada pukul 13.00. Oh ya, perjalanan ini merupakan kali pertama saya ke Padang. Jadi, agak asing dengan tempat ini, dengan banyak bangunan dengan atap khas rumah Minang-nya. Dari bandara lalu lanjut ke rumah teman saya di daerah Terandam, Padang. Kebetulan di depan rumahnya terdapat bekas jalur dari Stasiun Padang menuju Stasiun Puluaer. Jalur ini sempat diwacanakan untuk dihidupkan lagi, bahkan tahun lalu sempat diujicoba menggunakan loko hingga di Pasar Terandam. Namun, hingga saat ini belum ada kelanjutannya.

DSC_0721

Kondisi Jalur Mati Padang – Puluaer

 

#BlusukanDay

Blusukan di ranah Minang ini tidak semuanya dapat ditelusuri, mengingat waktu yang mepet, yakni hanya satu hari. Saya mengambil rute dari Padang – Indarung – Solok – Sawahlunto – Talawi – Batusangkar – Baso – Bukittinggi – Padang Panjang – Padang. Jadi, rute yang akan saya lalui akan melingkar, dari Padang kembali ke Padang lagi. Stasiun Solok akan menjadi destinasi pertama, karena merupakan daerah pertama yang dilintasi rel saya temui saat perjalanan tersebut.

sumbarat

Peta Sumatera Barat

Sekitar pukul 07.30 berangkat dari Padang naik motor. Berhubung teman saya mau pacaran, akhirnya saya berangkat sendirian.. hehe. Perjalanan yang cukup menyenangkan karena suguhan panorama alam yang indah di jalur pegunungan yang menanjak dan penuh tikungan tajam. Akhirnya tiba di Sawahlunto sekitar pukul 10.30.

DSC_0743

DSC_0749

Suasana Perjalanan menuju Solok

 

Stasiun Solok

Tak berbeda dengan di Jawa, bangunan stasiun sangat mudah ditemui di sini, cukup mencari pasar pasti akan ketemu stasiun. Tampaknya hal tersebut benar adanya, tak lama kemudian saya menemukan Stasiun Solok. Stasiun ini berada di Kampung Jawa, Tanjung Harapan, Kota Solok. Kondisi stasiun yang sepi dan jalur rel yang subur dengan rumput liar, serupa dengan stasiun mati. Namun, secara keseluruhan bangunan stasiun masih dalam kondisi baik dan terawat.

Di stasiun tersebut terparkir satu rangkaian KA Wisata Danau Singkarak yang terdiri dari tiga kereta. Sementara itu, di Dipo Lokomotif terdapat dua loko yang sedang tidur. Kondisi kereta tersebut agaknya banyak mengalami kerusakan, misalnya kaca yang pecah dan atap dan bodi yang banyak mengelupas, mungkin karena terlalu lama dijemur, pasalnya memang kereta tersebut sudah tidak beroperasi sejak Juni tahun lalu. Karena tidak adanya dipo kereta, kereta tersebut harus “dipaksa berpanas-panas” di emplasemen stasiun tanpa atap tersebut.

Kala masih aktif, kereta tersebut beroperasi pada hari libur dan Sabtu-Minggu, selain hari itu berjalan jika ada charteran. Karena sepinya okupansi, kemudian dihentikan sementara waktu untuk perjalanan regular dan akhirnya secara penuh berhenti beroperasi. Menurut informasi dari beberapa pegawai PT KAI yang saya temui di lokasi mengatakan bahwa wacananya kereta tersebut akan dihidupkan kembali, tapi belum ada kejelasan waktunya.

DSC_0759

DSC_0765

DSC_0757

Kondisi Rel dan Jembatan Sebelum Stasiun Solok

 

DSC_0767

Sinyal Masuk Stasiun Solok

DSC_0770

DSC_0786

DSC_0789

DSC_0775

DSC_0790

DSC_0797

DSC_0795

DSC_0799

DSC_0802

DSC_0804

DSC_0814

DSC_0780

DSC_0818

Kondisi Stasiun Solok

Karena waktu yang sudah beranjak siang, kemudian saya bergegas menuju ke Sawahlunto yang jaraknya sekitar 30 km dari Solok. Dengan demikian, saya harus merelakan untuk tidak melihat keelokan jalur rel di pinggir Danau Singkarak, karena jalur tersebut tidak searah jalan dengan letak Kota Sawahlunto.

Iklan

12 thoughts on “Blusukan Ranah Minang #1

      1. saya sendiri mas adminnya, yang satunya itu teman saya, yang sama-sama merintis blusukan jalur mati :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s