Kapan Lagi Ngabuburit ke Stasiun Kedungbanteng?

Ketika bulan Ramadhan seperti sekarang ini menjadi terpikirkan di mana saat puasa biasanya kita memiliki rencana untuk menghabiskan waktu untuk menunggu waktu adzan maghrib, kebanyakan kita menyebutnya “ngabuburit”. Tak terkecuali bagi saya dan Aghi, untuk mengisi kegiatan di sore hari sembari menunggu waktu berbuka kami memilih untuk naik KA Feeder Kedungbanteng. Kereta ini merupakan kereta jarak pendek yang difungsikan sebagai kereta pengumpan KA Bengawan dengan relasi Stasiun Solojebres hingga Stasiun Kedungbanteng, Sragen.

Nama Kedungbanteng sendiri agak asing di telinga kami karena belum pernah kami berkunjung ke tempat itu. Rasa penasaran kami berawal dari papan jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta di Stasiun Solojebres. Ada sebuah nama kereta yang membuat kami penasaran, yaitu KA Feeder Kedungbanteng. Kami kemudian berniat suatu saat akan menjajal kereta ini.

Akhirnya kesempatan kami dapatkan ketika bulan puasa, tepatnya tanggal 6 September 2010, memang sudah terlalu usang untuk diceritakan sekarang. Namun, tidak ada salahnya untuk diulas lagi mengingat kereta ini sekarang sudah tidak dioperasikan lagi, senasib dengan semua kereta feeder lainnya. Ya, PT KAI telah menghapus pengoperasian semua KA Feeder untuk menutup beban operasional.

Saat itu kami berangkat ke Stasiun Solojebres sekitar pukul 13.30, sedangkan KA Feeder Kedungbanteng akan berangkat pada pukul 14.10, Sebenarnya keretanya sudah siap di jalurnya sebelum kami tiba di stasiun, dengan membawa sekitar tiga gerbong kereta kala itu. Tetapi daripada menunggu lebih baik kami berjalan-jalan di sekitar stasiun. Pada saat itu stasiun ini baru saja direnovasi sehingga menggoda kami untuk banyak memotret keindahannya.

1.jebres

2.jebres

3.jebres

Suasana Stasiun Solojebres

 

4.feederkdb

5.feederkdb

KA Feeder Kedungbanteng

 

Maklum saja, stasiun ini memiliki arsitektur yang menawan dan sangat bersejarah bagi Kota Solo. Stasiun ini dibangun oleh perusahaan kereta api negara Staats Spoorwegen pada tahun 1884 dengan rancangan dari Hans Thomas Karsten, seorang arsitek yang mendesain banyak bangunan megah di banyak kota di Hindia Belanda. Dulunya stasiun ini sering digunakan oleh Gubernur Jenderal untuk berkunjung ke Keraton Kasunanan dan sering digunakan oleh Sunan Paku Buwono X untuk berkunjung ke luar negeri. Sedikit ulasan tentang sejarah stasiun yang berkode SK ini.

Tak terlalu lama bagi kami mengitari stasiun ini karena lokasinya yang tidak terlalu besar. Kami pun segera menaiki kereta kami. Tak disangka sebelumnya, ternyata kursi penumpang banyak yang kosong, terasa seperti kami menyewa sebuah kereta. Hanya sekitar 5 orang saja (termasuk kami) yang ada di tiga gerbong kereta. Lokomotif pun melaju ke timur tepat pada jadwalnya.

6.feederkdb

Suasana Kereta yang Kosong

 

Kereta ini melaju dengan cepat seolah seperti ketinggalan kereta (lho kereta ketinggalan kereta? hehe). Pada sepanjang perjalanan tampak hamparan persawahan yang hijau, melambai-lambai karena hembusan angin. Saat itu langit begitu mendung, tetapi belum menurunkan hujannya. Hanya gerimis yang mengiringi perjalanan kereta ini ke timur. Tidak semua stasiun disinggahi, saat berangkat tercatat kereta hanya berhenti di Stasiun Kemiri, Masaran, dan tentu saja Kedungbanteng.

10.otw

13.otw

12.otw

11.otw

17.box

Suasana dalam Perjalanan

 

7.kemiri

9.kemiri

8.kemiri

Stasiun Kemiri

 

14.masaran

16.masaran

15.masaran

Stasiun Masaran

 

Tidak sampai sejam kemudian akhirnya kami tiba di Stasiun Kedungbanteng, inilah kali pertama kami menjejakkan kaki di stasiun berkode KDB ini. Tampak keramaian penumpang yang telah menanti kemudian berebut naik ke atas kereta. Padahal kereta juga belum akan langsung berangkat, masih menunggu proses langsir lokomotif dan silangan kereta lain.

Stasiun Kedungbanteng ini merupakan stasiun paling timur di Daop VI Yogyakarta, termasuk ke dalam wilayah Sragen. Bentuk bangunan stasiun ini mirip dengan stasiun-stasiun yang dilewati sebelumnya, seperti kebanyakan bentuk bangunan stasiun khas SS Oosterlijnen. Selain itu, di stasiun ini masih terdapat loket lawas yang terbuat dari dinding kayu dengan besi teralis pada bagian depan, meskipun sekarang sudah digantikan dengan loket yang baru.

18.kdb

26.kdb

25.kdb

24.kdb

23.kdb

22.kdb

21.kdb

20.kdb

19.kdb

Suasana Stasiun Kedungbanteng

 

27.langsir

28.langsir

Proses Langsir Lokomotif

 

Sekitar pukul 15.00 kereta diberangkatkan kembali dari Stasiun Kedungbanteng menuju ke Stasiun Solojebres. Kursi penumpang sedikit lebih terisi dibandingkan dengan saat berangkat tadi. Kami lebih banyak menghabiskan perjalanan di gerbong kereta paling belakang, sensasi yang tak bisa didapatkan ketika naik kereta api sekarang ini karena semua kereta sekarang berpendingin udara, maka pintu harus selalu tertutup.

29.otw

Perjalanan Pulang

 

Tidak seperti saat berangkat tadi, kereta ini berhenti di Stasiun Sragen untuk mengangkut penumpang. Kereta terasa lebih hidup karena penumpang semakin banyak. Selain di Stasiun Sragen, kereta juga berhenti di Stasiun Kebonromo, Masaran, Kemiri, dan Palur untuk bersilang dengan kereta lain. Lebih banyak berhenti pada perjalanan pulang ini.

30.kebonromo

31.kebonromo

Stasiun Kebonromo

 

32.palur

33.palur

Stasiun Palur

 

Pada sekitar pukul 16.15 KA Feeder Kedungbanteng memasuki Stasiun Solojebres. Ketiga gerbong kereta yang tadi digunakan lalu disambungkan dengan rangkaian kereta KA Bengawan untuk kemudian diberangkatkan menuju Jakarta.

Demikian cerita perjalanan ngabuburit kami dengan naik KA Feeder Kedungbanteng. Pengalaman yang tidak bisa kami ulangi lagi karena kereta ini sudah tidak dioperasikan lagi. Sangat disayangkan, bagi kami inilah satu-satunya hiburan ketika sedang gundah gulana, karena naik kereta api itu menyenangkan.

 

*All pictures were captured by Aghi Wirawan and Tintony

Iklan

2 thoughts on “Kapan Lagi Ngabuburit ke Stasiun Kedungbanteng?

  1. mantapp…. sipp broo
    Tanah kelahiranku… jd rindu pulkam by kereta, tp syg ke Kedungbanteng sdh tdk ada lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s