Jalur Mati Madiun – Ponorogo

Sebelum kami lanjutkan blusukan di jalur mati Madiun – Ponorogo, sebaiknya kita lihat lihat dulu peta Madiun – Ponorogo yang saya dapatkan dari KITLV. Agar lebih memudahkan ketika blusukan di daerah Pandean hingga Kanigoro, maka saya lampirkan pula peta yang lebih detilnya.

mn-po

Peta Madiun- Ponorogo, tahun 1923 (source: KITLV.nl)

 

mn5

mn6

Peta Pandean – Banjarrejo – PG Kanigoro (source: KITLV.nl)

 

Jika pada artikel sebelumnya (Hilangnya Jalur Rel Tengah Kota Madiun) kami telah membahas tentang bekas jalur rel Madiun – Ponorogo yang berada di tengah kota, kini kami melanjutkan blusukan ke selatan dari lokasi bekas Stasiun Sleko. Bekas jalur rel berada di barat jalan raya, kemudian rel menyeberang ke timur jalan, tepatnya di depan Bulog, dapat kita temukan banyak patok KAI di sepanjang timur jalan di sekitar daerah Pandean.

23.pandean

Rel Menyeberang di Depan Bulog

 

24.pandean

Patok KAI di Depan Makam Bulusari, Pandean

 

Kemudian rel semakin ke timur dan agak menjauh dari jalan raya, tepatnya di sekitar depan Kejaksaan Negeri Madiun. Ketika tiba di bangjo di depan Kejaksaan, kemudian belok sedikit ke kiri menuju Jalan Ciliwung, lalu langsung belok kanan masuk gang Mangkuprajan, Demangan. Kami terus ke tenggara mengikuti arah jalan, tampak di kanan kiri jalan telah berdiri rumah-rumah permanen yang berderet lagi, seperti daerah perumahan.

25.pandean

Rel Menjauh dari Jalan Raya (Depan Kejaksaan Negeri)

 

26.pandean

Jalan Ciliwung, Masuk Gang Samping Toko Peralatan Bayi

 

27.mangkuprajan

28.mangkuprajan

29.mangkuprajan

Jalan Mangkuprajan, Demangan

 

Bekas jalur kemudian memasuki Jalan Taman Asri dan menyeberang Jalan Mayjend Panjaitan, tepatnya di depan Kantor PAN. Setelah menyeberang kemudian masuk gang Jalan Banjar Asri, sama seperti sebelumnya tempat ini juga kawasan perumahan. Agak membingungkan setelah kami bertemu dengan sebuah persimpangan yang agak rumit karena lokasi tersebut dulunya merupakan persimpangan antara jalur rel SS dengan jalur lori (decauville), bahkan kami juga menemukan sebuah sinyal jalur lori. Memang banyak sekali jalur lori di sini karena dekat dengan PG Kanigoro [lihat peta].

30.taman asri

Jalan Taman Asri

 

31.panjaitan

Rel Menyeberang Jalan Mayjend. Panjaitan (Depan Kantor PAN)

 

32.banjar asri2

33.banjar reja

Jalan Banjar Asri

 

sinyal lori

Bekas Sinyal Lori

 

Tak jauh berjalan lalu kami sudah hampir tiba di PG Kanigoro, sudah terlihat cerobong asapnya. Masih terdapat tiang-tiang sinyal yang berdiri. Namun, sudah tidak terpakai lagi. Sebelum tiba kami menjumpai sebuah bangunan dengan jalur lori di dalamnya yang sudah tidak digunakan, tetapi masih terlihat bekas relnya, dulu jalurnya berdampingan dengan jalur rel SS. Setelah itu bertemu dengan perempatan jalan, lanjut lurus menuju gang yang masih berupa jalan tanah.

34.banjar reja2

Daerah Banjarrejo (sebelum PG Kanigoro)

 

35.pg kanigoro2

PG Kanigoro

 

36.pg kanigoro3

Gang Sebelah Barat PG Kanigoro

 

Tidak jauh kemudian kami menemukan bekas Stasiun Kanigoro. Kami tidak menduga sebelumnya, tidak terlalu tampak seperti bangunan stasiun karena sudah digunakan untuk tempat tinggal dan warung jajanan. Lagipula bangunan telah dicat berwarna-warni, mirip seperti rainbow cake.

Saat melihat-lihat lokasi kami bertemu dengan Pak Agus atau biasa dipanggil sebagai Agus Brengos, beliau adalah pemilik warung jajanan. Beliau merupakan warga sekitar yang menyulap ruang tunggu Stasiun Kanigoro. Kami pun mengajukan banyak pertanyaan tentang kondisi stasiun ini dan kenapa kemudian ditutup.

“Dulu jalurnya ada tiga mas, jalur yang paling timur dipakai untuk keluar masuk PG Kanigoro, yang diangkut hasil tebu dan bahan baku untuk pabrik. Bangunan stasiun ini juga belum saya rubah sama sekali, hanya genteng saja kalau bocor saya perbaiki. Saya tidak berani mengubah bangunan ini, nanti kalau sewaktu-waktu mau dipakai lagi,” terang beliau.

37.kanigoro

38.kanigoro

39.kanigoro

40.kanigoro

41.kanigoro

44.kanigoro

45.kanigoro

Kondisi Bekas Stasiun Kanigoro

 

Selain itu, beliau dulu juga sering naik kereta api dari Stasiun Kanigoro menuju ke Madiun atau ke Ponorogo. Penumpang yang naik pun didominasi oleh para pedagang. Biasanya berangkat pagi dan pulang pada siang atau sore hari. Kebanyakan ketika keberangkatan pagi sesuai dengan jadwal. Namun, saat pulang biasanya tidak sesuai jadwal, tergantung okupansi penumpang. Jika sudah penuh, maka kereta akan berangkat. Frekuensi perjalanan harian kereta pun juga tak pasti, tergantung kebutuhan penumpang.

“Sekitar tahun 1982 mungkin mas dulu ditutup jalurnya ini (Madiun – Slahung), karena penumpang mulai sepi, banyak yang beralih naik bus. Dulu kebanyakan yang naik pedagang dari Ponorogo yang membawa hasil bumi untuk dijual di Madiun dan dari Madiun banyak pedagang yang mengangkut barang-barang kebutuhan sehari-hari,” tutur bapak berusia 50 tahun ini.

Beliau juga mengatakan bahwa semua bekas rel di sekitar Kanigoro telah dicabut, bahkan semua kerangka jembatan juga telah dibongkar, hanya tersisa pondasinya dan tiang penyangganya saja. Beliau memberikan contoh misalnya Jembatan Kali Catur yang letaknya tidak jauh dari Kanigoro. Dari perbincangan dengan Pak Agus ini, kami banyak mendapat gambaran tentang informasi kondisi jalur mati ini, dari saat masih aktif hingga mati seperti sekarang. Beliau juga mengatakan bahwa ternyata baru kami yang pernah datang ke bekas Stasiun Kanigoro dan bertanya langsung kepadanya, kami pun langsung sumringah mendengarnya.

46.agus

Pak Agus

 

Setelah dirasa cukup, lalu kami berpamitan dan melanjutkan blusukan. Dari bekas Stasiun Kanigoro kemudian kami terus mengikuti bekas jalurnya di daerah Sagaten, lalu menyeberang jalan dan masuk gang di daerah Sidorejo. Tidak jauh melangkah kemudian kami menemukan sebuah jalur pipa air yang posisinya lebih tinggi dari jalan, sekitar daerah perumahan.  Jalur pipa tersebut merupakan jalur pompa air untuk dialirkan dari Kali Catur menuju ke PG Kanigoro, berarti kami telah dekat dengan bekas jembatan Kali Catur. Benar saja tidak jauh dari lokasi pompa air sudah terlihat bekas jembatannya, tetapi hanya tersisa pondasi tiang-tiangnya saja, seperti kata Pak Agus sebelumnya.

pom kanigoro2

pom kanigoro1

Bekas Pompa Air Milik PG Kanigoro

 

Pada saat sedang mengambil gambar, ada seorang kakek sedang mencari rumput untuk ternaknya. Kami pun bertanya tentang kondisi bekas jembatan yang sudah tidak ada kerangkanya. Beliau menceritakan bahwa dulu yang mencabut rel di sekitar Kanigoro adalah orang-orang suruhan petinggi PJKA di Madiun. Selain itu, seluruh kerangka jembatan di sepanjang Jalur Madiun – Slahung juga ikut dibongkar semua. Bahkan kantor yang di Bandung (Kantor Pusat PJKA) tidak mengetahuinya. Sebuah informasi tak terduga yang baru kami dengar, perlu dibuktikan dulu dengan fakta.

51.kali catur

 

52.kali catur

Bekas Jembatan Kali Catur

 

Melanjutkan perjalanan dari Kali Catur, Sidorejo kemudian kami melanjutkan blusukan dan bekas rel pun kemudian masuk ke jalan raya Madiun – Ponorogo, tepatnya di daerah Kertosari. Di sepanjang daerah ini bekas rel berdampingan dengan jalan raya. Jika Anda melewati jalan ini pasti akan menemukan bekas rel yang menonjol di sisi timur jalan, hal ini akan terlihat hingga Ponorogo. Di daerah Sangen, sebelum memasuki Pagotan rel agak menjauh dari jalan raya, dan bekas jalurnya melewati tengah sawah.

53.kertosari

54.kertosari

55.kertosari

56.kertosari

Kondisi Bekas Jalur Rel di Daerah Kertosari

 

57.sangen

58.sangen

59.sangen

Kondisi Bekas Jalur Rel di Daerah Sangen

 

Tujuan kami yang selanjutnya adalah Stasiun Pagotan. Dari informasi yang kami dapat berada di sekitar PG Pagotan. Dari jalan raya kami berbelok ke kiri sebelum PG Pagotan kemudian bertemu dengan bekas jalur rel lagi yang tadi agak menjauh dari jalan raya. Kemudian kami belok kanan melewati bekas jalurnya yang kini berubah menjadi jalan. Tak lama kemudian akhirnya kami menjumpai bekas Stasiun Pagotan.

60.sangen

61.sangen

Kondisi Bekas Jalur Rel Sebelum Stasiun Pagotan

 

Kondisi bekas Stasiun Pagotan tidak seperti bekas Stasiun Kanigoro yang masih terawat. Bangunan tua ini terlihat mengenaskan karena sangat kotor, kaca banyak yang pecah, lantai keramik juga rusak, banyak genteng yang pecah dan jatuh. Untuk ruangan PPKA/KS sekarang berubah menjadi tempat penyimpanan barang perkakas milik RT setempat. Meskipun banyak bagian yang tak terawat, tetapi kondisi struktur bangunan masih asli, hanya butuh sedikit renovasi saja.

Untuk lebih memudahkan untuk menemukannya, stasiun ini berada di belakang Pasar Pagotan dan PG Pagotan. Dari Stasiun Pagotan kemudian bekas jalurnya menuju ke selatan, melewati lapangan dan masuk ke gang.

62.pagotan

63.pagotan

64.pagotan

65.pagotan

 

66.pagotan

67.pagotan

 

68.pagotan

Kondisi Bekas Stasiun Pagotan

 

70.pg pagotan

PG Pagotan

 

69

Bekas Jalur di Selatan Stasiun Pagotan

 

Untuk selanjutnya sudah tidak ada bekas bangunan stasiun yang kami temukan, hanya perkiraan lokasi saja karena bangunan asli stasiun sebagian besar telah dibongkar. Kebanyakan yang kami temukan adalah bekas pondasi jembatan dan tiang jembatan, tanpa kerangka jembatan. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa seluruh bekas jembatan di sepanjang jalur Madiun – Slahung telah dibongkar kerangka bajanya, sehingga hanya bekas pondasi saja yang dapat kita temukan di banyak lokasi sepanjang pinggir jalan raya.

71.uteran

Bekas Jembatan di Daerah Uteran

 

72.dolopo

73.dolopo

Rel Menyeberang di Depan RSUD Dolopo

 

74.jemb dolopo

75.jemb dolopo

Bekas Jembatan di Daerah Dolopo (Selatan RSUD Dolopo)

 

76.dolopo

Lokasi Bekas Jalur Rel di Depan Pasar Dolopo (Timur Jalan)

 

77.glonggong

78.glonggong

Bekas Jembatan di Daerah Glonggong

 

79.umbul

80.umbul

Bekas Jembatan di Daerah Umbul

 

Saat tiba di daerah Mlilir kami mencoba mencari keberadaan bekas Stasiun Mlilir, stasiun ini adalah stasiun terakhir di wilayah Madiun, berada di perbatasan sebelum memasuki wilayah Ponorogo. Setelah kami cari tidak ketemu juga, akhirnya kami bertanya kepada warga sekitar yang kebetulan di lokasi. Dari keterangan beliau didapatkan bahwa bangunan Stasiun Mlilir telah lama dibongkar dan sekarang berubah menjadi bangunan supermarket.

81.mlilir

Lokasi Bekas Stasiun Mlilir

 

82.mlilir

83.mlilir

Bekas Jalur di Selatan Stasiun Mlilir

 

84.jemb mlilir

85.jemb mlilir2

Bekas Jembatan di Daerah Mlilir

 

Setelah dari Mlilir kemudian kami memasuki wilayah Ponorogo, daerah yang pernah kami telusuri sebelumnya ketika blusukan jalur mati Ponorogo – Slahung. Saat tiba di bangjo patung kuda kemudian kami menemukan sebuah rambu awas kereta api, tepatnya di Jalan Mayjend Sutoyo. Selain itu, kami juga masih menemukan bekas pondisi jembatan dengan rel yang masih melekat di atasnya di daerah Jarakan. Untuk penemuan kami yang terakhir adalah berupa sinyal masuk Stasiun Ponorogo, berada di bangjo Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya berdiri di atas trotoar.

gapura

Gapura Selamat Datang Ponorogo

 

86.mayjend sutoyo

Bekas Rambu Awas Kereta Api di Jalan Mayjend Sutoyo

 

87.jarakan

Bekas Pondasi Jembatan di Kali Jarakan

 

89.po

90.po

91.po

Bekas Sinyal Masuk Stasiun Ponorogo

 

Demikian sedikit cerita yang bisa kami bagi untuk khalayak semua dari blusukan kami, semoga dapat menambah informasi tentang kondisi terkini dari jalur mati Madiun – Ponorogo. Seperti banyak jalur mati lain, agaknya sulit untuk menghidupkan jalur ini kembali. Alasan yang sama pun juga didapat, seperti lokasi bekas jalur rel yang banyak beralih menjadi pemukiman, banyak yang tertimbun aspal, dan banyak perubahan lainnya, sehingga sudah tak tampak bekasnya, terutama di dalam Kota Madiun, mungkin lebih realistis dengan membuat jalur yang baru.

Mungkin rencana yang lebih prioritas adalah konservasi benda cagar budaya yang masih ada, seperti bangunan stasiun dan pondasi-pondasi jembatan. Kita pasti tidak ingin hilangnya bangunan Stasiun Mlilir akan terulang lagi. Semoga wacana tentang menghidupkan jalur ini kembali bukan isapan jempol belaka, harapan dan usaha harus selalu ada.

Thanks to:

  1. Aghi Wirawan (@aghi_wirawan)
  2. Bapak Tri
  3. Bapak Agus
  4. Narasumber lainnya

 

Sumber Peta: KITLV.nl

Iklan

30 thoughts on “Jalur Mati Madiun – Ponorogo

  1. Halo mas. Blognya bagus banget. Saya suka.
    Saya tinggal di Maospati. Saya juga berharap banget rencana reaktivasi jalur KA Madiun Ponorogo segera dilaksanakan. Sayang sekali kota yang dulunya ramai dengan perkeretaapian sekarang menjadi seperti ini. Minat masyarakatnya untuk menggunakan moda transportasi KA untuk bepergian ke kota-kota lain juga sepertinya memprihatinkan. Semoga ke depannya Madiun dan sekitarnya bisa ramai lagi dengan kereta.
    Salam.

    1. Terima kasih mas apresiasinya.
      Semoga jalurnya nanti akan dihidupkan lagi, meski sangat sulit untuk diwujudkan.
      Di Maospati ada jalur mati juga, jalur Stasiun Barat ke Lanud Iswahyudi.

      1. Iya mas. Kalo jalur sepur avtur itu saya tau. Dulu pas masih TK (tahun 96an) sering sepedahan ke pertigaan jalan barat liatin rangkaian ketel pertamina didorong loko D301 (kalo ga salah) parkir di pinggir jalan nungguin pintu lanud dibuka.

  2. selamat malam, wah artikel-artikelnya kian hari kian berbobot… saya juga pernah menyusuri jalur ini tadi rutenya di balik dari Slahung hingga Madiun.. bulan April kemarin saya juga telah menyelesaikan blusukan Ponorogo-Bandengan. dan insyaallah kamis ini saya kembali blusukan ke jalur madiun-slahung (kebalikan dari blusukan yg pertama) guna melengkapi data saja untuk bahan postingan di group FB Jalur Non Aktif di Indonesia…. good job mas…

    1. badegan mas, bukan bandengan. hehe

      makasih mas apresiasinya, bisa dijadwalkan nanti blusukan bareng 🙂

  3. Kalo bisa di Double Track, lebar rel 1435 mm, sinyal Elektrik, dan LAA ( karena nantinya semua kereta pulau Jawa akan mengikuti kereta Sumatra yang 1435 mm lewat Jembatan Selat Sunda ). Biar bisa dilewati kereta Shinkansen atau TGV, sekalian bikin depot dan Balai Yasa Shinkansen/TGV sub Madiun di daerah Pagotan, lumayan biar bisa service kereta yang rusak di situ. Dibikin 30 Jalur memanjang ( 20 Jalur untuk Dipo 10 Jalur untuk Balai Yasa ) biar bisa nampung hingga 250 hingga 500 kereta )

    1. Mungkin bisa dimasukkan ke dalam program jangka panjang. Namun, semua perlu kajian terlebih dulu mengenai berbagai aspek, juga diperlukan dana yang tidak sedikit untuk membangunnya. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, saya yakin sebagian masyarakat juga memiliki harapan yang sama sebenarnya.

  4. Nama saya : Lusnando. Hp : 081325071813. Saya rail fans dari kota Salatiga. Saya senantiasa mengamati perkembangan reaktivasi jalur kereta api Ambarawa – Kedungjati. Saat puasa, Stasiun Tuntang perlahan – lahan telah direnovasi. InsyaAllah setelah Idul Fitri ini, reaktivasi jalur kereta api dilanjutkan…

    1. Salam

      Rencana awal memang menunggu selesai pembangunan double-track pantura, baru kemudian mereaktivasi jalur mati Tuntang-Kedungjati. Proses pematokan tanah sudah dilakukan sejak lama, masyarakat sekitar pun juga mendukung, tinggal menunggu eksekusi dari pemerintah.

  5. Artikel yang bermanfaat mas, khususnya buat kami generasi2 yg lahir setelah jalur2 itu tdk aktif. Ke dpn saya berharap jalur itu bisa diaktifkan kembali. Saya ingin melihat kembali wajah Madiun yg dulunya kereta api melintasi tengah kota.

    1. saya kira sebagian masyarakat ponorogo dan madiun juga mengharapkan hal yg sama, tinggal menunggu action pemerintah saja, tentunya harus kita dukung selalu. 🙂

      1. Semoga bisa terealisasi. Mas, btw jalur KA antara tarik-jenggolo di sidoarjo itu jalur mati apa msh aktif itu mas? Sdh pernah blusukan ke situ mas?

      2. belum sampai disana mas, daerah jenggolo saya juga kurang tahu ada di mana.
        yang jelas dalam waktu dekat akan dihidupkan lagi jalur langsung menuju ke arah timur tanpa melewati surabaya, percabangan berawal dari Tarik, mungkin yang dimaksud adalah jalur tersebut.

    1. jangan dulu berpikir jauh, ini masih wacana, diwujudkan dulu pengaktifannya baru nanti baru berpikir operasional, step by step 🙂

  6. Wah Artikelnya lengkap Mas. Saya asli Magetan sekarang tinggal di Bekasi. Jadi inget tahun 1976 an pernah lihat kereta loko uap melaju di sisi barat Jalan H. Agus Salin mengarah ke Alun-alun Madiun lalau belok ke kanan. Sekarang jalur itu kalau melam berubah jadi warung tenda.

      1. Mas antara stasiun pagotan dan mlilir masih ada stasiun dolopo..letaknya sebelah utara pasar..tp mepet jln raya..akirnya dibongkar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s