Hilangnya Jalur Rel Tengah Kota Madiun

Pada blusukan kali ini kami melakukan penelusuran jalur mati jalur Madiun – Ponorogo, yakni pada tanggal 19 April 2014. Ini merupakan kelanjutan blusukan kami sebelumnya di jalur mati Ponorogo – Slahung (baca Jalur Mati Ponorogo). Rute keberangkatan yang kami tempuh antara lain berangkat melalui Tawangmangu, Magetan, Maospati dan tiba di Madiun. Karena tujuan akhir di Ponorogo, maka untuk rute pulang kami melalui Sumoroto, Purwantoro, Wonogiri, dan tiba kembali di Sukoharjo.

Untuk blusukan kali ini akan kami bagi menjadi dua artikel, yang pertama akan membahas tentang kondisi bekas jalur di tengah Kota Madiun, lalu yang kedua membahas tentang kondisi bekas jalur di Madiun – Ponorogo.

Sekitar pukul 06.30 kami berangkat berboncengan naik motor dari Sukoharjo, tiba di Tawangmangu sekitar pukul 08.00, kami berhenti dulu di sebuah bengkel karena motor sedang bermasalah. Sekitar sejam kemudian kami melanjutkan lagi perjalanan menuju Sarangan dan Magetan. Ketika sampai di Magetan sebenarnya kami ingin melalui Goranggaring, tapi malah salah jalan hingga tiba di Maospati. Sekitar 15 menit kemudian akhirnya kami tiba di Madiun, tujuan kami yang pertama adalah Stasiun Madiun.

Sebelum kita memulai blusukan, sebaiknya kita tengok dulu peta lama buatan Belanda yang masih tertera bekas jalur rel dari Stasiun Madiun menuju Ponorogo dengan melalui tengah kota. Dari peta di bawah ini dapat kita lihat bahwa bekas jalurnya melewati jalan protokol. Nama jalan yang tertera di peta berbeda dengan nama jalan yang sekarang, misalnya Jalan Wilhelmina sekarang menjadi Jalan Slamet Riyadi, Jalan Toegoe sekarang menjadi Jalan Jend Sudirman, dan Jalan Battoir sekarang menjadi Jalan Kol. Marhadi.

mad1

mad2

mad3

Peta Madiun tahun 1917 (source: KITLV.nl)

 

Tiba di Stasiun Madiun kami tidak masuk melalui pintu depan, karena kemungkinan kami akan kesulitan untuk bisa masuk ke dalam stasiun, sehingga kami masuk melalui sisi timur stasiun yang tidak ada pagar pembatas, tepatnya di ujung Jalan Ploso. Motor kami tinggal di pinggir jalan dan kami masuk ke area stasiun, hanya berjalan sedikit saja akan langsung menemukan bekas percabangan jalur menuju Ponorogo. Relnya masih dalam keadaan baik, ada bekas seperti tidak lama dilewati loko atau kereta, mungkin sekarang dipakai untuk sepur badug. Kami juga menemukan sebuah patok tanah kuno milik SS.

Station van de Staatsspoorwegen te Madioen 1930

Stasiun Madiun, tahun 1930 (source: KITLV.nl)

 

1.madiun

2.madiun

3.madiun

4.madiun

Percabangan menuju Ponorogo

 

4.patok

Patok Tanah Milik Staats Spoorwegen (SS)

 

Selesai mengambil gambar kemudian kami melanjutkan blusukan di jalur yang terputus oleh Jalan Kemuning dan masuk ke sebuah gang di sebelah pos kamling yang padat dengan pemukiman. Bekas jalur rel sekarang berubah menjadi rumah-rumah permanen. Kondisi tersebut terjadi di sepanjang bekas jalur daerah Oro-Oro Ombo (di peta: Ara-Ara Amba) dan Jalan Seroja. Pada peta tertera bahwa terdapat Halte Kota, yang sekarang berada di ujung Jalan Pudak, sebelum melintasi Jalan Slamet Riyadi. Bangunan aslinya sudah tidak ada, berganti bangunan lain.

5.pudak

6.pudak

Kondisi Bekas Jalur di Daerah Oro-Oro Ombo

 

7.madiunkota

Perkiraan Bekas Lokasi Halte Kota (Jalan Pudak)

 

8.sl riyadi

9.sl riyadi

Bekas Rel Melintasi Jalan Slamet Riyadi

 

Selepas melintasi Jalan Slamet Riyadi kemudian masuk ke Jalan Halmahera, keadaan masih sama dengan sebelumnya di Oro-Oro Ombo yang bekas jalurnya dipenuhi bangunan permanen, terus ke selatan hingga bangjo Jaitan (terdapat tugu jeruk), lalu bekas jalurnya berbelok ke barat masuk ke Jalan Jend Sudirman. Berdasarkan peta terdapat Halte Patoman di sisi utara jalan, tetapi sudah tidak ada bekasnya. Hal serupa terjadi juga pada Halte Prapatan, bangunan pertokoan telah mendominasi sepanjang bekas jalur rel di Jalan Jend Sudirman (di peta: Toegoe Laan). Bekas jalur rel sendiri berada tidak di pinggir jalan jalan, tetapi menyatu dengan jalan dan agak di tengah.

10.halmahera

10.halmaheraa

11.halmahera

Kondisi Bekas Jalur di Jalan Halmahera, Kertoharjo

 

12.jaitan

Bekas Rel Berbelok Masuk Jalan Jend. Sudirman (Bangjo Jaitan)

 

13.patoman

Perkiraan Bekas Lokasi Halte Patoman

 

14.prapatan

 

Perkiraan Bekas Lokasi Halte Prapatan

 

Ketika akan memasuki Alun-Alun kemudian rel bercabang menjadi dua, yang pertama masih lurus hingga ke Kauman, sedangkan yang kedua berbelok ke selatan menuju Jalan Agus Salim atau Pasar Madiun (Ponorogo). Bekas jalur yang menuju ke Kauman kemungkinan menuju ke gudang karena tidak adanya bekas halte yang ditertera di peta dan juga di sekitar lokasi tersebut dekat dengan pusat perdagangan.

15.jensud

Lokasi Percabangan Rel menuju ke Kauman dan Pasar Besar

 

16.jensud

Rel Berbelok ke Selatan, Jalan Agus Salim (Ke Arah Ponorogo)

 

17.kauman

Perkiraan Lokasi Ujung Jalur Kauman

 

Untuk jalur yang menuju Pasar Madiun juga sudah tak nampak bekasnya, bahkan bangunan pasarnya sendiri, tak nampak seperti foto jaman dulu. Berdasarkan peta bahwa lokasi Halte Pasar Besar (Passar Besar) berada di selatan Pasar dan di utara lokasi kediaman Letnan Cina (sekarang Kantor Perpus dan Arsip Daerah Kota Madiun).

Pasargebouw te Madioen, Oost-Java, gebouwd in 1927. Het geheel is in beton opgetrokken en voorzien van tegelvloeren

Kondisi Pasar Besar, tahun 1927 (source: KITLV.nl)

 

17. pasar besar

Perkiraan Bekas Lokasi Halte Pasar Besar

 

letnan

Lokasi Kediaman Letnan Cina (Sekarang Kantor Perpus dan Arsip Daerah Kota Madiun)

 

Kami pun kemudian sedikit pesimis dengan jejak bangunan yang masih ada dan bisa ditemui karena keadaan bekas jalur rel yang berada di tengah kota sudah hilang tak bersisa. Setelah dari Pasar Besar lalu kami menuju ke daerah Sleko, bagian selatan Madiun. Saat sedang mencari-cari bekas Stasiun Sleko kami agak kebingungan karena tidak satu pun bangunan yang mirip banguan stasiun, hanya bangunan pertokoan saja di kanan dan kiri Jalan Soekarno-Hatta.

Titik terang kemudian kami dapat ketika bertemu dengan Bapak Tri, seorang pemilik warung PKL yang saat itu sedang berberes-beres untuk menutup warungnya. Beliau merupakan warga asli daerah Sleko yang sedari kecil mendiami daerah tersebut. Dari beliau kami mendapat informasi bahwa bekas Stasiun Sleko sekarang sudah tidak ada, berubah menjadi pertokoan bertingkat.

“Dulu stasiunnya di depan pasar mas, dekat bangjo, sekarang jadi tempat karaoke, “ terang beliau.

Beliau juga berkisah ketika beliau masih kecil dulu setiap hari naik kereta di Stasiun Sleko untuk bersekolah. Ketika berapa tarifnya dulu, beliau tidak ingat, hanya dulu dibayarkan langsung kepada kondektur, seperti naik bus sekarang. Dulu terdapat dua jalur di stasiun itu. Bekas relnya berada di utara jalan dan sekarang sudah tak terlihat lagi karena sudah tertimbun aspal karena pelebaran jalan.

18.tri

Pak Tri

 

19.sleko

20.sleko

21.sleko

Bekas Lokasi Stasiun Sleko

 

22.sleko

Bekas Jalur Rel di Sebelah Barat Jalan

 

Kesimpulan bahwa bekas jalur rel di tengah Kota Madiun telah lenyap karena tertimbun oleh aspal jalan yang disebabkan oleh pelebaran jalan. Selain itu,  karena posisi rel yang menyatu dengan jalan dan berada di pinggir (sedikit lebih ke tengah) menyebabkan jalur ini tergusur (atau dimatikan) karena dianggap sebagai penyebab kemacetan dan rawan kecelakaan. Untuk bekas halte sendiri kemungkinan telah hilang jauh sebelum jalur ini mati, karena pada foto tahun 70-an yang sempat saya lihat menunjukkan bahwa jalur tersebut memang sudah penuh dengan bangunan pertokoan, sehingga tidak mudah bangunan sekelas halte dipertahankan untuk hidup.

Demikian laporan untuk blusukan di bekas jalur rel Madiun – Ponorogo yang berada di dalam Kota Madiun. Untuk artikel selanjutnya akan kami paparkan kondisi terkini dari bekas jalur yang meliputi daerah Kanigoro, Pagotan, Dolopo, Mlilir, hingga memasuki Ponorogo.

Iklan

9 thoughts on “Hilangnya Jalur Rel Tengah Kota Madiun

  1. Saya menduga bahwa Perhentian Patoman adalah nama lain dari Perhentian Madiun Pasar (MNP). Jarak dari Stasiun Madiun (MN) adalah 2,383 km..

    1. Bisa saja sebenarnya, namun belum ada bukti yang menunjukkan demikian. Saya masih mengira lokasinya adalah di Halte Passar Besar, mari kita sama-sama cari tahu 🙂

  2. Kalo jalur ini diaktifkan, kemungkinan besar bekas jalur yang masuk ke Kota akan dibangun layang/elevated atau bawah tanah/underground or subway. Ini diharuskan mengingat jalanan yang makin Padat. Saya berharap Pemerintah bisa mengaktifkan Jalur KA Madiun – Slahung segera, kalo bisa pake lebar sepur 1435 mm, di elektrifikasi, dan kasih LAA mengingat nantinya Kereta di Sumatra dibangun seperti itu juga dengan lebar sepur 1435 mm secara keseluruhan dan akan terhubung dengan pulau Jawa via Sunda Strait Bridge

  3. Mohon maaf ada kekurangan kata, untuk jalur yang ada di jalanan ama yang di tengah kota, lebih baik bangun jalur Elevated, stasiun nya dibangun mirip seperti stasiun MRT, yang di pinggir Jalan, tinggal gusur bangunan yang nutupin rel bahkan. Bagaimana nasib SPBU, Terminal Bus dan Masjid yang sudah dibangun di atas Rel? ( SPBU ) bagi yang kerja di SPBU selama pembangunan para pekerja harus pindah ke SPBU yang lain sampai pembangunan jalur dan SPBU baru selesai dibangun, ( Masjid ) nanti nya akan diganti menjadi masjid besar atau Jami’, selama masa pembangunan jalur, untuk sementara waktu para Jama’ah harus pindah ke Masjid Darurat yang ada di tempat pengungsian karena Masjid Lama akan digusur untuk pembangunan jalur, bagi korban penggusuran nantinya akan dipindahkan ke tempat pengungsian, di tempat pengungsian tersebut terdapat Masjid Darurat, ( Terminal Bus ) jika Terminal Bus itu Terminal Kecamatan yang tugasnya seperti Angkot maka harus di gusur selama pembangunan Jalur, kendaraan yang numpang di Terminal itu dialihkan ke Terminal Kota Ponorogo, jika jalur sudah jadi, Terminal akan dibangun lagi, tetapi kalau Terminal Kota, ada 2 tahap, yang Pertama jika Terminal itu berada di Awal Masuk Kota, maka itu harus Izin ke Pemkot setempat untuk mengajukan Izin untuk menggusur Terminal tersebut dan Pemkot harus cari tempat lain untuk Pengganti Terminal Lama, itu tergantung pembangunan nya seperti apa ( untuk masuk ke kota bagi yang dulunya punya jalur rel di tengah jalan ) jika Layang maka tidak perlu digusur artinya lanjutkan saja, jika pembangunan nya Underground atau Ground ( biasa ), maka harus digusur dan cari tempat baru untuk Terminal Pengganti, Tahap kedua adalah jika Terminal tersebut terletak di Akhir Kota ( cth. Terminal Tingkir Salatiga ) maka pembangunan apa aja baik Elevated maupun Underground ( kecuali Ground karena harus gusur Terminal tsb. ) dilanjutkan sampai keluar perbatasan Kota. Untuk stasiun, stasiun nya dibikin modern layaknya stasiun stasiun di Eropa dan stasiun MRT, dan PT. KAI juga harus bikin komplek dan perumahan baru, belum lagi kalo pembangunannya sekalian buat double track langsung untuk jalur mati dan lebar sepurnya lebih lebar ( 1435 mm ) daripada sebelumnya ( 1067 mm ), kalo perlu bangun perumahan mewah bagi warga yg tergusur pembangunan aktivasi jalur KA, lokasinya dekat bahkan sejajar dengan jalur KA. Jarak antara komplek dan perumahan untuk korban penggusuran dengan jalur KA kalo perlu 10 sampai 15 m untuk Drainase. Untuk Jembatan semuanya harus dibangun Beton mengingat pembangunan jembatan Beton semakin meningkat. Sinyal nya harus sinyal Elektrik karena Peminat nya banyak bahkan untuk modernisasi Perkeretaapian. Listrik Aliran Atas ( LAA ) diperlukan karena kemungkinan besar semua Jalur KA termasuk Jalur Madiun – Slahung akan dilewati oleh kereta cepat ( Shinkansen atau TGV ), juga nantinya berguna kalau buat jalur Komuter Listrik relasi Madiun – Slahung PP. Kalo masalah PJL nantinya pakai palang Otomatis, kemungkinan akan banyak sekali Perlintasan Sebidang karena nantinya banyak jalan keluar masuk Komplek dan Perumahan untuk Korban Penggusuran, SPBU, Masjid, dan Terminal Bus ( Kecamatan/Kecil ), dan tempat umum lainnya yang dibangun PT. KAI untuk mengganti apa yang telah digusur oleh PT. KAI. Sekian dari Saya

    1. Mohon maaf, tetapi tidak segampang itu, tidak bisa jika nantinya asal menggusur saja, meskipun secara hukum tanah milik PT KAI, mesti juga dipikirkan tentang dampak sosialnya, karena yang dihadapi manusia juga.

      Yang kedua, yang disebutkan di atas merupakan tipe program berbudget tinggi, tidak semudah membangun kandang ayam. Belum masalah keuntungannya, apakah benar nantinya akan menguntungkan, tidak mungkin investor akan menanamkan modal untuk sesuatu yang belum pasti.

      Begitu kiranya pendapat saya, tetapi pada dasarnya saya setuju, dengan pendapat Anda yang visioner. Namun, pada akhirnya kita harus berpikir logis dan realistis.

      Salam 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s