Stasiun Temanggung

temanggung3

Setelah selesai dari Stasiun Secang, lalu kami menelusuri jalur rel yang menuju ke Temanggung dan Parakan. Dari jalan raya kami menemukan perlintasan rel di sekitar Desa Ngabean, Secang. Memang secara kasat mata tidak terlalu terlihat, tetapi bila dengan seksama diperhatikan maka akan menemukannya. Rel dari arah secang (kiri jalan) masih Nampak bekasnya, begitu juga rel yang masih utuh, hanya sekarang sudah diplester semen, dengan bekas jembatan kecil di bawahnya. Sedangkan di jalan raya sudah tak nampak karena sudah tertimbun aspal, dan di kanan jalan juga tak tampak karena terputus oleh bangunan penggilingan padi di seberang jalan.

ngabean1

ngabean2

Perlintasan rel dari Secang menuju Temanggung, sekitar Desa Ngabean

Kami melanjutkan perjalanan menuju Temanggung. Sepanjang perjalanan kami terus mencari keberadaan Stasiun Kranggan. Namun, ternyata kami kelewatan hingga akhirnya kami tiba di Kali Progo. Kami enggan untuk berbalik arah karena tidak menghemat waktu berhubung perjalanan masih panjang.

Untuk itu kami lebih baik menghabiskan waktu secukupnya untuk memotret kondisi Jembatan Progo dan melanjutkan perjalanan lagi. Di sana saya bertemu dengan Pak Nurrohman, seorang pencari pasir di Kali Progo. Saya bertanya banyak hal tentang kereta api yang dulu lewat, dan bertanya tentang keberadaan halte dan stasiun di Temanggung. Di sekitar tempat tempat tersebut juga merupakan lokasi kegiatan wisata arung jeram, sehingga banyak pemandangan bagus di saat itu. Setelah dirasa cukup, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tepat setelah melewati Kali Progo terdapat perlintasan yaitu di depan Hotel Kintamani, jalur tersebut menuju ke daerah Guntur.

progo4

progo3

progo2

progo1

Jembatan Kali Progo

Tak lama kemudian kami memasuki Kota Temanggung. Oleh karena waktu sudah memasuki waktu dhuhur, lalu kami menuju ke Masjid Agung Darussalam, lokasinya di dekat Alun-alun kota. Setelah menunaikan kewajiban kami berniat menjajal kuliner khas, yaitu bakso uleg. Saya ditraktir oleh Aghi, bos besar gitu. Hehe

Kami melanjutkan untuk mencari keberadaan bekas Stasiun Temanggung. Tidak sulit untuk menemukannya karena dulu pernah melewati tempat itu sebelumnya. Lokasi bekas Stasiun Temanggung berada di sebelah timur kantor bupati. Kondisi bangunan sangat terawatt sebenarnya, tetapi karena ditambah bangunan baru pada bagian depan yang menyatu dengan bangunan lama menyebabkan bentuknya sudah tidak asli lagi sesuai dengan keadaan yang saya lihat pada foto jaman dulu.

Pada bekas peron stasiun sekarang sudah tertutup banyak bangunan hingga tak nampak lagi seperti seperti stasiun. Kami mencoba masuk, tetapi pintu terkunci semua, jadi kami menengok ke bagian belakang saja karena pintu yang terbuka. Pada bagian belakang tampak tak terawat karena banyak tumbuh rumput liar dan kotor.

Bangunan ini sekarang bernama Gedung Juang 45, sangat disayangkan karena tak sesuai dengan identitasnya sebagai bekas stasiun. Mungkin banyak warga Temanggung yang tak mengetahui dulunya adalah sebuah stasiun. Layaknya Stasiun Secang, stasiun ini juga disunakan untuk kantor Pepabri. Seandainya saja bangunan masih utuh seperti bentuk aslinya, maka akan terlihat megah dan menawan.

temanggung3

temanggung2

temanggung1

temanggung4

temanggung5

temanggung8

temanggung6

temanggung7

temanggung9

temanggung10

Bekas Stasiun Temanggung

Setelah Stasiun Temanggung terdapat Halte Maron, tetapi kami melewatinya untuk menuju ke Stasiun Kedu, demi mengejar tiba di Parakan sebelum sore hari.

2 thoughts on “Stasiun Temanggung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s